Duhai anakku sayang, ini adalah kisah Amirul-Mu’minin, Umar ibn al-Khattab a pada masa permulaan kepemimpinannya. Saat itu, Umar menetapkan bahwa bagi setiap bayi yang memasuki masa penyapihannya akan mendapatkan santunan. Semoga engkau bisa meneladaninya.
Suatu malam, Umar
ditemani pembantunya pergi ke luar untuk suatu keperluan. Di tengah perjalanan,
Umar mendengar tangisan seorang bayi. Maka Umar berkata ibu dari bayi itu, “Susuilah
dia!” Ibu itu—yang tidak menyadari bahwa orang yang menyuruhnya adalah Umar,
amirul-Mu’minin—menjawab, ”Amirul-Mu’minin tidak memberi santunan untuk bayi
yang baru lahir sampai masa penyapihannya. Karena itu, saya terpaksa harus
menyapihnya,” mendengar jawaban ibu itu, Umar terhentak dan berkata dalam
hatinya, “Aku hampir saja membunuh anak itu.” Setelah itu, Umar berkata, “Susuilah
dia, nanti amirul-Mu’minin pasti akan memberikan santunan untuknya.”
Setelah peristiwa itu,
Umar mulai menetapkan santunannya untuk setiap bayi yang baru lahir. Semoga
Allah merahmati Umar, sesungguhnya dia adalah orang yang sangat takut kepada Allah
dan tunduk terhadap batasan-batasan-Nya. Akhirnya, Umar keluar dari rumah ibu
itu dengan dada yang lapang dan hati yang lega.
Hikmah: pentingnya pemimpin
yang memiliki rasa takut kepada Allah تعالى
Lintasan pribadi:
Betapa besarnya ketakwaan
Umar tergambar pada sikapnya dalam menghadapi peristiwa itu. Ia lebih melihat
pada dirinya yang barangkali ada kesalahan dalam kebijakan yang ia buat dari pada
melihat kesalahan ibu bayi itu yang memaksakan penyapihan pada bayinya agar
mendapatkan santunan—meski kemungkinan kondisi ibu itu memang miskin. Dalam kebijakan
itu berpotensi untuk digunakan oleh para ibu yang lain agar mendapatkan
santunan dan hal ini akan membahayakan bayi-bayi kaum muslimin. Akhirnya, Umar
mengganti kebijakannya. Sekilas saya melihat dalam kebijakan penggantinya itu
justru akan semakin berat bagi beliau karena harus mulai mengurusi bayi dari
semenjak lahir daripada kebijakan sebelumnya yaitu menunngu masa penyapihan
yang kurang lebih dua tahun paska lahir. Barangkali Umar begitu kuat
keyakinannya dalam menjalankan ayat berikut:
فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ
يُحِبُّ ٱلْمُتَوَكِّلِينَ
Ali imran: 159
Tidak ada komentar:
Posting Komentar