Senin, 20 Juni 2022

Kurikulum Pendidikan Nabi

Apa kurikulum pendidikan yang sebaiknya kita gunakan?

Mari perhatikan hadist berikut.

 عَنْ جُنْدُبِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ كُنَّا مَعَ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- وَنَحْنُ فِتْيَانٌ حَزَاوِرَةٌ فَتَعَلَّمْنَا الإِيمَانَ قَبْلَ أَنْ نَتَعَلَّمَ الْقُرْآنَ ثُمَّ تَعَلَّمْنَا الْقُرْآنَ فَازْدَدْنَا بِهِ إِيمَانً

Dari Jundub bin ‘Abdillah, ia berkata, kami dahulu bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kami masih anak-anak yang mendekati baligh. Kami mempelajari iman sebelum mempelajari Al-Qur’an. Lalu setelah itu kami mempelajari Al-Qur’an hingga bertambahlah iman kami pada Al-Qur’an. (HR. Ibnu Majah, no. 61. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).

Dari hadist tersebut, setidaknya ada dua hal.
1. Usia
    Fityan hazawiroh => anak-anak mendekati baligh => sekitar usia sekolah dasar
2. Kurikulum
    iman sebelum quran
    Usia baligh paling lama adalah 15 tahun secara hitungan tahun qomariyah. Pada usia anak-anak sampai 15 tahun ini, pengajaran yang paling utama adalah menggunakan kurikulum iman, yakni menanamkan iman dan menumbuhkannya. Dalam pengajaran calistung, ilmu alam, dan ilmu-ilmu yang lain, selalu dikaitkan kepada keimanan kepada Allah ta'ala.

Hal lain yang bisa kita ambil pelajarannya adalah bagaimana seharusnya seorang guru.
Perhatikan kalimat dalam hadist tersebut.
... kami dahulu bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ...
1. Seorang guru harus menjadi tempat yang nyaman bagi anak-anak didik.
2. Seorang guru memahami betapa pentingnya usia fityan hazawiroh dan pentingnya kurikulum iman di usia itu.



Silahkan ikuti Akademi Guru Al Fatih (AGA)
#kurikulum #guru #usia #iman #jundub