Senin, 08 Agustus 2022

PENGORBANAN


 Siapakah yang benar-benar sudah berkorban?

CINTA, Seperti Apa Pengertiannya dari Seorang Ulama, Ibnu Qudamah

 


Membaca kalimat di atas, terlintas pertanyaan dalam benakku, 

    apakah saya sudah memiliki cinta kepada Allah?

    kepada Rasulullah?

    kepada al Quran?

    kepada orang tua?

    bahkan kepada diri sendiri?

Akan petunjuk dan kasing sayang dari Allah, sungguh aku berharap.

Kamis, 07 Juli 2022

Berkarya Terbaik

 Banyak sekali kisah-kisah orang-orang hebat lagi memiliki karya-karya yang hebat. Mereka adalah orang-orang mulia yang mendedikasikan karya-karya mereka itu untuk Allah ta'ala. Mereka melakukan usaha-usaha terbaik dalam amanah dan hal-hal yang mereka kuasai.

Dari kisah-kisah mereka, seharusnya kita mengambil pelajaran bahwa selayaknya bagi kita untuk melakukan hal-hal terbaik dalam amanah dan hal-hal apapun yang kita lakukan termasuk dalam ibadah-ibadah kita.

Semoga Allah membimbing kita.

Senin, 20 Juni 2022

Kurikulum Pendidikan Nabi

Apa kurikulum pendidikan yang sebaiknya kita gunakan?

Mari perhatikan hadist berikut.

 عَنْ جُنْدُبِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ كُنَّا مَعَ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- وَنَحْنُ فِتْيَانٌ حَزَاوِرَةٌ فَتَعَلَّمْنَا الإِيمَانَ قَبْلَ أَنْ نَتَعَلَّمَ الْقُرْآنَ ثُمَّ تَعَلَّمْنَا الْقُرْآنَ فَازْدَدْنَا بِهِ إِيمَانً

Dari Jundub bin ‘Abdillah, ia berkata, kami dahulu bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kami masih anak-anak yang mendekati baligh. Kami mempelajari iman sebelum mempelajari Al-Qur’an. Lalu setelah itu kami mempelajari Al-Qur’an hingga bertambahlah iman kami pada Al-Qur’an. (HR. Ibnu Majah, no. 61. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).

Dari hadist tersebut, setidaknya ada dua hal.
1. Usia
    Fityan hazawiroh => anak-anak mendekati baligh => sekitar usia sekolah dasar
2. Kurikulum
    iman sebelum quran
    Usia baligh paling lama adalah 15 tahun secara hitungan tahun qomariyah. Pada usia anak-anak sampai 15 tahun ini, pengajaran yang paling utama adalah menggunakan kurikulum iman, yakni menanamkan iman dan menumbuhkannya. Dalam pengajaran calistung, ilmu alam, dan ilmu-ilmu yang lain, selalu dikaitkan kepada keimanan kepada Allah ta'ala.

Hal lain yang bisa kita ambil pelajarannya adalah bagaimana seharusnya seorang guru.
Perhatikan kalimat dalam hadist tersebut.
... kami dahulu bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ...
1. Seorang guru harus menjadi tempat yang nyaman bagi anak-anak didik.
2. Seorang guru memahami betapa pentingnya usia fityan hazawiroh dan pentingnya kurikulum iman di usia itu.



Silahkan ikuti Akademi Guru Al Fatih (AGA)
#kurikulum #guru #usia #iman #jundub 

Jumat, 20 Mei 2022

Umar ibn Al-Khattab, Pemimpin yang Dibimbing Oleh Allah تعالى

 

Duhai anakku sayang, ini adalah kisah Amirul-Mu’minin, Umar ibn al-Khattab a pada masa permulaan kepemimpinannya. Saat itu, Umar menetapkan bahwa bagi setiap bayi yang memasuki masa penyapihannya akan mendapatkan santunan. Semoga engkau bisa meneladaninya.

 

Suatu malam, Umar ditemani pembantunya pergi ke luar untuk suatu keperluan. Di tengah perjalanan, Umar mendengar tangisan seorang bayi. Maka Umar berkata ibu dari bayi itu, “Susuilah dia!” Ibu itu—yang tidak menyadari bahwa orang yang menyuruhnya adalah Umar, amirul-Mu’minin—menjawab, ”Amirul-Mu’minin tidak memberi santunan untuk bayi yang baru lahir sampai masa penyapihannya. Karena itu, saya terpaksa harus menyapihnya,” mendengar jawaban ibu itu, Umar terhentak dan berkata dalam hatinya, “Aku hampir saja membunuh anak itu.” Setelah itu, Umar berkata, “Susuilah dia, nanti amirul-Mu’minin pasti akan memberikan santunan untuknya.”

 

Setelah peristiwa itu, Umar mulai menetapkan santunannya untuk setiap bayi yang baru lahir. Semoga Allah merahmati Umar, sesungguhnya dia adalah orang yang sangat takut kepada Allah dan tunduk terhadap batasan-batasan-Nya. Akhirnya, Umar keluar dari rumah ibu itu dengan dada yang lapang dan hati yang lega.

Hikmah: pentingnya pemimpin yang memiliki rasa takut kepada Allah تعالى

Lintasan pribadi:

Betapa besarnya ketakwaan Umar tergambar pada sikapnya dalam menghadapi peristiwa itu. Ia lebih melihat pada dirinya yang barangkali ada kesalahan dalam kebijakan yang ia buat dari pada melihat kesalahan ibu bayi itu yang memaksakan penyapihan pada bayinya agar mendapatkan santunan—meski kemungkinan kondisi ibu itu memang miskin. Dalam kebijakan itu berpotensi untuk digunakan oleh para ibu yang lain agar mendapatkan santunan dan hal ini akan membahayakan bayi-bayi kaum muslimin. Akhirnya, Umar mengganti kebijakannya. Sekilas saya melihat dalam kebijakan penggantinya itu justru akan semakin berat bagi beliau karena harus mulai mengurusi bayi dari semenjak lahir daripada kebijakan sebelumnya yaitu menunngu masa penyapihan yang kurang lebih dua tahun paska lahir. Barangkali Umar begitu kuat keyakinannya dalam menjalankan ayat berikut:

فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُتَوَكِّلِينَ
Ali imran: 159